Playtech menilai performa bisnisnya di kawasan Amerika yang lebih kuat dari perkiraan bisa membantu perusahaan mengimbangi kenaikan pajak perjudian yang direncanakan berlaku pada 2026.
CEO Playtech, Mor Weizer, menyebut bahwa perusahaan teknologi ini mulai memasuki fase percepatan menuju profitabilitas. Ia juga cukup optimistis menatap tahun ke depan setelah Playtech membukukan kinerja paruh kedua 2025 yang solid, terutama berkat kontribusi operasi di Amerika Serikat dan Meksiko pada kuartal keempat.
Investasi Berlanjut dan Target EBITDA 2025
Playtech juga memastikan investasi lanjutan di berbagai negara di kawasan Amerika masih akan terus dilakukan. Kinerja kuat di paruh kedua tahun ini diproyeksikan mampu mendorong adjusted EBITDA 2025 minimal mencapai €195 juta, atau sekitar Rp3,3 triliun.
Angka tersebut memang masih menunggu proses audit, namun sudah berada di atas perkiraan analis yang sebelumnya berada di kisaran €150 juta hingga €187 juta (sekitar Rp2,5 triliun hingga Rp3,2 triliun), dengan rata-rata konsensus di €177 juta atau kurang lebih Rp3 triliun.
Proyeksi tersebut sudah memperhitungkan kerugian operasional dari salah satu unit bisnis ritel perusahaan, serta porsi pendapatan dari perusahaan afiliasi, termasuk kepemilikan saham sekitar 30% di salah satu operator iGaming Amerika Latin. Namun, kontribusi dari unit bisnis lain yang sudah dilepas pada tahun fiskal 2025 tidak lagi dimasukkan dalam perhitungan.
Pernyataan Manajemen Soal Kinerja 2025
Menanggapi hasil keuangan tersebut, Mor Weizer menyampaikan kepuasannya terhadap performa perusahaan di akhir 2025.
Ia menjelaskan bahwa Playtech telah melakukan investasi secara konsisten di kawasan Amerika selama beberapa tahun terakhir. Menurutnya, perkembangan terbaru di pasar Amerika Serikat menjadi salah satu pencapaian paling menggembirakan, karena hasil dari kerja keras tersebut kini mulai terasa dan berdampak langsung pada peningkatan profitabilitas.
Outlook Playtech untuk Tahun 2026
Memasuki 2026, Playtech menyatakan akan tetap waspada terhadap berbagai tantangan industri yang masih berlangsung, termasuk rencana kenaikan pajak perjudian di sejumlah pasar utama seperti Inggris. Meski begitu, perusahaan menilai momentum bisnis saat ini cukup positif, terutama berkat performa operasional yang solid di kawasan Amerika.
Berdasarkan kondisi tersebut, Playtech menargetkan pencapaian jangka menengah berupa adjusted EBITDA di kisaran €250 juta hingga €300 juta, atau sekitar Rp4,25 triliun hingga Rp5,1 triliun, serta free cash flow antara €70 juta hingga €100 juta, setara dengan Rp1,2 triliun sampai Rp1,7 triliun.
Weizer menambahkan bahwa perusahaan akan tetap melakukan investasi secara selektif, khususnya di Amerika Serikat dan wilayah Amerika lainnya yang dinilai masih memiliki peluang pertumbuhan besar. Walaupun tantangan industri masih ada, ia mengaku antusias dengan momentum yang sedang dibangun dan potensi pertumbuhan signifikan di masa depan.
Perkembangan Kasus Hukum dengan Evolution
Di sisi lain, Playtech juga memastikan akan melanjutkan proses litigasi pencemaran nama baik dengan Evolution. Sebelumnya, pada Oktober lalu, Evolution menuding salah satu anak usaha Playtech bertanggung jawab atas penunjukan firma intelijen bisnis independen untuk menyelidiki aktivitas Evolution di pasar yang dilarang atau terkena sanksi, termasuk dugaan kerja sama dengan operator yang tidak memiliki lisensi di pasar teregulasi.
Menanggapi tudingan tersebut, Playtech menegaskan bahwa anggapan adanya kampanye fitnah sama sekali tidak benar. Perusahaan menyebut tuduhan itu justru bertujuan mengalihkan perhatian dari pertanyaan serius terkait praktik bisnis Evolution. Playtech juga menyatakan tetap berdiri di belakang keputusannya untuk menugaskan laporan tersebut dan menyambut baik proses pemeriksaan di pengadilan.
Dalam laporan kuartal keempat terbaru kepada investor, pihak Evolution belum banyak memberikan pembaruan terkait kasus ini. Namun, CEO Evolution, Martin Carlesund, menyampaikan bahwa perusahaannya siap melanjutkan proses hukum dan menantikan kelanjutan gugatan tersebut.
